Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film Where The Crawdads Sing

Film mid-budget dengan target penonton usia dewasa, yang memadukan romansa, drama persidangan, serta misteri pembunuhan. Where the Crawdads Sing merupakan jenis tontonan yang makin jarang diproduksi Hollywood, ketika memasuki 2010-an, industri seolah cuma mengenal "film kecil" dan raksasa blockbuster. 

Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Delia Owens, ini adalah cerita tentang Kya (Daisy Edgar-Jones), yang hidup sendirian di tengah paya. Sejatinya ia mempunyai keluarga, namun akibat perilaku abusive sang ayah (Garret Dillahunt), satu per satu pergi, termasuk sang ibu (Ahna O'Reilly). 

Warga sekitar menganggap Kya aneh, menjauhinya, pula memberinya julukan "marsh girl". Hanya sedikit yang (mau) mengenal namanya, lebih sedikit lagi yang mengetahui kisahnya. Salah satunya Tate (Taylor John Smith), sahabat Kya sejak kecil. Selain mengajari Kya baca tulis, Tate pun berbagi ketertarikan terhadap alam sebagaimana si gadis paya. 

Sewaktu pemuda bernama Chase Andrews (Harris Dickinson) ditemukan tewas, kecurigaan mengarah pada Kya. Alurnya bergerak secara non-linear, bergantian menyoroti sidang kasus kematian Chase dengan Kya sebagai terdakwa, dan flashback soal proses tumbuh kembang si tokoh utama. 

Meski berbagi elemen plot, gaya bercerita Olivia Newman selaku sutradara sejatinya cukup berbeda dibanding film-film mid-budget yang menguasai 90-an. Temponya lambat, pun cenderung berbentuk observasi, studi bagi karakter Kya, ketimbang rangkaian konflik padat nan intens. Kita diajak mengenal siapa Kya, apa saja yang membentuk kepribadian serta kondisi psikisnya, dan tentu saja, apakah benar ia membunuh Chase. 

Walau sebenarnya durasi tak perlu mencapai 126 menit sebab beberapa momen berlangsung terlalu lama, pacing lambatnya bukanlah kekurangan. Ditemani visual cantik (angsa salju beterbangan, daun-daun melayang mengiringi ciuman pertama sang protagonis), Where the Crawdads Sing bagai perjalanan santai melintasi bentangan rawa, di mana penonton cuma perlu duduk sambil meresapi suasana. We're just vibing through the nature. 

Where the Crawdads Sing juga sebuah kisah coming-of-age mengenai gadis yang belajar keluar dari cangkangnya, mengatasi ketakutan, pula membebaskan diri dari para "pemangsa". Berkat penampilan Daisy Edgar-Jones, mudah bersimpati pada proses yang Kya lalui. Sekuen persidangan pun terasa intens karena kita memedulikan nasib karakternya.  

Daisy membuat sosok Kya tampak menyimpan teka-teki di mata publik (termasuk penonton), meski sejatinya justru ia yang dibuat bingung oleh teka-teki kehidupan. Mengapa ia selalu ditinggal pergi? Hingga di paruh akhir yang menyentuh, Kya menyadari bahwa semua orang, termasuk dirinya, memang akan pergi. Apakah pergi secara damai dalam pelukan kebahagiaan atau tidak, itu yang jadi pembeda. 

Post a Comment for "Review Film Where The Crawdads Sing"