Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film PEREMPUAN BERGAUN MERAH



Siapa pun yang mengedit trailer Perempuan Bergaun Merah wajib dibayar tinggi. Dia mampu mengambil materi-materi terbaik (termasuk money shot keren yang tak disertakan di final cut), merangkainya, mengesankan sebuah tontonan brutal nan bertenaga, kala filmnya sendiri justru kerap kekurangan daya. 

Jika anda mencari horor berdarah karena melihat nama Timo Tjahjanto mengisi kursi produser, jangan khawatir, ekspektasi itu bakal terpenuhi. Perempuan Bergaun Merah mendorong batasan rating usia 13+ ke titik paling maksimal. Sayang, sebagaimana debut penyutradaraan solonya tiga tahun lalu (Sekte), William Chandra masih kepayahan meramu intensitas.

Semua diawali oleh menghilangnya Kara (Stella Cornelia), selepas suatu malam yang dipenuhi alkohol. Beberapa temannya hadir, termasuk sang sahabat, Dinda (Tatjana Saphira), namun tak satupun tahu keberadaan Kara. Dinda yang merasa bertanggung jawab pun berusaha melakukan pencarian dengan bantuan Putra (Refal Hady), pacar Kara. Di saat bersamaan, satu per satu orang yang turut serta di malam misterius tersebut tewas di tangan hantu perempuan bergaun merah. 

Perempuan Bergaun Merah membawa protagonisnya dalam investigasi yang jalan di tempat. Sebuah proses minim progres. Dampaknya beragam. Minim progres berarti kegagalan mengajak penonton terlibat mempertanyakan misteri di balik hilangnya Kara. Akibat kurang melibatkan penonton, twist ganda di paruh akhir juga gagal memberi dampak (kenapa kita harus peduli saat tak dilibatkan?). Tidak ada misteri, tidak ada pertanyaan, tidak ada rasa ingin tahu, berujung ketiadaan sense of urgency. Alhasil, tercipta kekosongan penceritaan yang membuat alurnya melelahkan tiap pembantaian absen dari layar. 

Naskah hasil tulisan William Chandra memang lemah. Pemakaian kultur Tionghoa yang memberi angin segar tertutupi oleh sederet kekurangan. Misal terkait subteks. Mitos hantu perempuan bergaun merah ada di berbagai belahan dunia. Detail tiap negara berlainan, namun selalu mengerucut pada satu isu: objektifikasi wanita. Poin tersebut bukannya dilupakan, tapi naskahnya lalai mengeksplorasi, luput menekankan bahwa selain si pelaku, para enabler pun patut disalahkan. Mungkin William menghindari penuturan gamblang dan/atau menggurui, yang akhirnya malah berujung ketidaktegasan dalam menyuarakan pesan. 

Tapi jika sebatas banjir darah yang anda cari, Perempuan Bergaun Merah takkan sebegitu mengecewakan. Didukung tata rias kelas satu yang membuat tampilan si hantu mampu memancing kengerian, kita disuguhi kebrutalan memuaskan. Salah satu yang paling kreatif adalah pemakaian kasur di sebuah pembunuhan. 

Penampilan jajaran pemain pun berkontribusi menguatkan sisi horor. Dewi Pakis mendefinisikan "ekspresi seram" di sebuah shot yang memorable; Faradina Mufti menunjukkan potensi sebagai scream queen yang piawai menampakkan teror di wajahnya; sedangkan Tatjana menutup debut horornya (tanpa menghitung dwilogi Ghost Writer yang lebih dekat ke ranah komedi) melalui performa mengejutkan di babak ketiga. 

Di beberapa kesempatan, William Chandra menyajikan jump scare yang ampuh mendatangkan efek kejut berkat pendekatan bertenaga, tapi sayang, konsistensi pengarahannya patut dipertanyakan. Seiring waktu, tenaga itu seolah menipis. Serupa permasalahan di Sekte, pilihan shot William kerap melucuti dampak suatu teror. Canggung. Termasuk momen final yang alih-alih mendatangkan kepuasan, malah memancing respon, "Sudah?". Kombinasikan itu dengan penceritaan stagnan yang melelahkan, jadilah sebuah horor yang kekurangan daya. 

Post a Comment for "Review Film PEREMPUAN BERGAUN MERAH"