Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film PAMALI


Kesulitan menghasilkan film adaptasi video game rupanya bukan terjadi hanya di Hollywood, tapi juga Indonesia. Setelah DreadOut (2019) jadi noda hitam di karir Kimo Stamboel, hadir Pamali, adaptasi gim berjudul sama yang lebih pas dijadikan obat insomnia ketimbang tontonan untuk menakut-nakuti. 

Saya tidak memainkan gimnya. Saya tidak tahu ke arah mana cerita aslinya digulirkan. Tapi rasanya Evelyn Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Surat dari Kematian) selaku penulis naskah pun kebingungan mesti bagaimana mengembangkan kisahnya. 

Skenario standar film horor mengawali alurnya. Pasangan suami istri, Jaka (Marthino Lio) dan Rika (Putri Ayudya), mendatangi sebuah rumah tua di desa. Rumah itu merupakan peninggalan orang tua Jaka, dan ia berniat menjualnya setelah kehilangan pekerjaan. Apalagi Rika tengah hamil tua. Mereka menetap beberapa hari guna membersihkan rumah sebelum menjualnya. Jaka membiarkan ibu hamil bekerja dan tinggal di rumah penuh debu, yang entah sudah berapa tahun tidak ditinggali. Sungguh suami teladan.  

Sesekali filmnya membawa kita menyaksikan flashback mengenai Nenden (Taskya Namya), kakak Jaka, yang jiwanya terguncang sepeninggal sang suami. Teknis transisi kedua linimasa cukup menarik, di mana beberapa perpindahan terjadi (seolah) tanpa pergantian shot. Ironisnya, di adegan-adegan yang lebih "normal", penyuntingannya justru kasar. Begitu kasar, suara tokek sampai terpotong. Beberapa jump scare bahkan kehilangan momentum akibat buruknya timing penyuntingan. 

Di latar masa kini, Rika mulai mendapati fenomena aneh, yang entah kebetulan atau bukan, muncul selepas ia melanggar pamali untuk ibu hamil, seperti memotong rambut dan menggunting kuku di malam hari. Apa naskahnya mengeksplorasi elemen kultural perihal pamali? Sayangnya tidak. 

Sekali lagi, Evelyn kebingungan mengolah ceritanya. Persoalan pamali berakhir sebagai pernak-pernik semata, tidak digali, dieksplorasi, atau sekadar dimaknai. Caranya mengaitkan dua linimasa pun kacau. Padahal pertanyaan yang coba diolah (lalu dijawab oleh ending-nya) sangatlah sederhana, yakni "Apakah teror yang Rika alami murni disebabkan pamali, akibat tragedi masa lalu, atau keduanya?". 

Apa pula pentingnya membuat Jaka amensia? Apa penyebabnya? Apakah trauma masa kecil? Naskahnya lalai membahas itu, sebagaimana ia seolah lupa memasukkan elemen tersebut, dan baru menyelipkannya di tengah lewat obrolan kasual, alih-alih menanamnya sejak awal. 

Sebagai horor, metode menakut-nakuti Pamali amat medioker. False alarm berulang serta jump scare berisik jadi andalan. Di kursi sutradara, Bobby Prasetyo (Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi, Eyang Putri) salah mengartikan "draggy" sebagai "atmosferik". Selain tempo kelewat pelan kala build up, acap kali suatu momen berjalan dua kali lebih lama dari seharusnya. Membosankan. Menyaksikan Cecep (Fajar Nugra) melembar banyolan garing jauh lebih menghibur. 

Beruntung, seperti yang telah berkali-kali ia lakukan sepanjang karirnya, Putri Ayudya tampil dengan performa solid yang menyelamatkan filmnya dari kehancuran total. Rukman Rosadi sebagai Dadang, ayah Jaka dan Nenden pun mencuri perhatian meski porsinya kemunculannya minim. Berkat cast-nya, Pamali ibarat rumah orang tua Jaka. Masih berdiri, bisa dijadikan tempat berteduh, walau alangkah baiknya jangan mencoba tinggal di sana. 

Post a Comment for "Review Film PAMALI"