Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film MONA LISA AND THE BLOOD MOON

 



Nyala neon di Mona Lisa and the Blood Moon mungkin berlawanan dengan pemakaian warna hitam putih milik A Girl Walks Home Alone at Night (2014), namun keduanya menawarkan protagonis yang serupa. Gadis muda polos yang serba ingin tahu, kesepian, sendirian mempertanyakan perannya dalam kehidupan, serta identik dengan hal supernatural. 

Sebagaimana debut penyutradaraannya, Ana Lily Amirpour menciptakan semesta yang bermain-main dengan batasan realisme. Amirpour tidak membawa kita berjalan-jalan ke dunia lain, melainkan mengunjungi sudut-sudut yang sebelumnya tidak kita ketahui eksistensinya. Asing, aneh, tapi familiar. 

Semua berawal saat seorang gadis (Jun Jong-seo) kabur dari rumah sakit jiwa. Mona Lee namanya, dan ia memiliki kekuatan telekinisis sehingga dapat mengendalikan tubuh orang lain hanya dengan menatap mata mereka. Setelah menghabiskan malam berkeliaran di kota New Orleans, ia bertemu Bonnie (Kate Hudson), seorang stripper yang memberinya nama panggilan "Mona Lisa". 

Bagi Mona Lisa, Bonnie yang tak merasa takut pada kekuatannya, bahkan memberinya tempat bernaung, adalah teman sejati. Berada di rumah sakit jiwa sejak umur 10 tahun membuat Mona Lisa dipenuhi ketidaktahuan akan dunia, dan Bonnie jadi sosok yang memperkenalkannya ke banyak hal. Tapi Bonnie bukan orang suci. Baginya, kekuatan Mona Lisa adalah cara untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Apalagi ia harus menghidupi puteranya yang masih kecil, Charlie (Evan Whitten). 

Genre apa yang sebenarnya film ini usung? Drama coming-of-age? Horor? Komedi? Thriller? Fantasi? Jangan repot-repot mencari jawaban. Seperti di debutnya, Amirpour yang turut bertindak selaku penulis naskah, tidak mengarah ke genre spesifik. Dia hanya mau bercerita, lalu memilih pendekatan yang menunjang cerita itu, yang kebetulan sesuai dengan kriteria genre-genre tertentu. 

Alurnya memunculkan pertanyaan seputar "kontrol". Mona Lisa mampu mengontrol tubuh orang lain, sementara di lain pihak, banyak orang berusaha memegang kontrol atas dirinya. Bedanya, jika Mona Lisa takkan memamerkan kekuatan selama dibiarkan bebas, orang-orang di sekitarnya secara aktif berambisi mengendalikannya, mengontrolnya, mengurungnya. Jadi siapakah ancaman atas kebebasan yang sesungguhnya?

Pada satu adegan, Charlie memperlihatkan gambar buatannya. Di situ,  stripper bernama Hellfire menari di atas bumi yang terbakar. "The world's burning. She's burning, but she's dancing. She never lets the pain show". Mona Lisa terpaku bak menyadari sesuatu. Itukah yang ia cari? Gambar itu sendiri menuangkan harapan Charlie terkait Bonnie, supaya sang ibu tak lagi terobsesi pada materi, tak memedulikan cara dunia memandangnya, dan cukup mementingkan kebahagiaan berlandaskan kebebasan. 

Hal-hal di atas Amirpour sampaikan sembari bersenang-senang. Gaya bertuturnya memang kerap memancing kelucuan tak terduga. Canggung, aneh, menggelitik. Perjalanan mengitari New Orleans pun makin kaya warna berkat pilihan lagu Amirpour yang menggabungkan rock, metal, dan musik elektronik. Begitu pun visualnya. Ditangani oleh sinematografer langganan Ari Aster, Pawel Pogorzelski, gambar-gambarnya bukan cuma cantik, pula efektif memainkan dinamika adegan. Ketegangan di klimaks adalah contoh sempurna. 

Di jajaran pemain, kombinasi dua aktrisnya menciptakan keseimbangan. Kate Hudson sebagai wanita yang terbutakan oleh beratnya realita, Jun Jong-seo sebagai figur out-of-this-world misterius yang berjalan di antara kesan "cute" dan "mystical". Keduanya jadi teman menyenangkan bagi kita, dalam sebuah perjalanan yang juga menyenangkan. Aneh, tapi begitu usai, saya langsung ingin mengarunginya lagi. 


Post a Comment for "Review Film MONA LISA AND THE BLOOD MOON"