Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film - The Menu


Film adalah pengalaman spiritual personal. Bukan cuma soal suka atau tidak, pula mengenai cara pandang. Seperti saat saya  menonton The Menu. Alurnya berpusat pada makanan. Tepatnya makanan yang dilihat sebagai karya seni. Karena bukan seorang foodie, apakah saya sulit terkoneksi dengan karya Mark Mylod ini? Tidak juga. Bagi saya selaku pecinta film, satir milik The Menu dapat diaplikasikan ke dunia film. 

Tyler (Nicholas Hoult) dan kekasihnya, Margot (Anya Taylor-Joy), datang ke sebuah restoran eksklusif bernama Hawthorne kepunyaan Chef Slowik (Ralph Fiennes). Hawthorne dikenal lewat presentasi makanan yang unik, dan tentunya harga luar biasa mahal. Maka tidak mengherankan saat pengunjung lain terdiri dari bintang film, pebisnis sukses, pasangan kaya raya, hingga kritikus makanan. 

Hawthorne terletak di pulau terpencil dengan akses transportasi minim. Sebuah panggung sempurna bila seseorang berniat melancarkan aksi keji. Tapi harap bersabar. Meski naskah buatan Seth Reiss dan Will Tracy telah menyiapkan setumpuk kejutan (serupa Barbarian beberapa waktu lalusemakin sedikit anda tahu soal The Menu, semakin seru), teror serta misteri baru menyeruak selepas 30 menit. 

Sebelumnya, secara pelan tapi pasti filmnya menampilkan observasi. Di sinilah urusan perspektif yang saya singgung di atas berperan. Hawthorne adalah restoran. Tempat menikmati makanan. Sebagaimana bioskop jadi tempat menikmati film. Di situlah sang seniman mempersembahkan karya buatannya. 

Foodie atau bukan, bakal mengakui keindahan karya yang Slowik sajikan. Wajar, sebab The Menu melibatkan Dominique Crenn (satu-satunya chef wanita Amerika pemilik tiga bintang Michelin) sebagai desainer makanan, sedangkan posisi second unit director diduduki oleh David Gelb sang kreator seri dokumenter Chef's Table.  

Slowik bukan juru masak biasa. Dia seniman. "Jangan makan, tapi cicipi, rasakan", demikian bunyi instruksinya ke para tamu. Dia adalah auteur. Layaknya sutradara pencipta sinema dengan karya "level tinggi" yang bersifat segmented. Di jajaran penikmatnya terdapat kritikus dengan diksi-diksi berat sembari mempermasalahkan hal-hal sepele, pengunjung (baca: penonton) kasual yang datang hanya demi prestise tanpa memedulikan sajiannya, sampai snob menyebalkan yang merasa paling paham, namun nol besar kala diminta mempraktikkan pengetahuannya. Naskahnya jeli mengolah penokohan di atas guna melahirkan satir menggelitik mengenai industri seni. Segala seni. Karena dunia seni apa pun pasti diramaikan oleh jenis orang-orang tersebut. 

Di dunia film, cukup banyak kasus di mana auteur bertindak terlalu jauh dalam mengekspresikan keeksentrikannya, dan teror The Menu kurang lebih bermain-main dengan persoalan serupa. Ketika seniman "ditelan" oleh karya seninya sendiri. Fiennes tampil luar biasa sebagai chef yang bisa menjadikan kata "cook" terdengar menyeramkan. Fiennes memberi interpretasi kompleks bagi karakternya, memadukan misteri, kengerian, sekaligus kepedihan. Sementara Anya Taylor-Joy adalah Anya Taylor-Joy. Aktris dengan magnet yang bisa membuat mata penonton terpak ke arahnya, apa pun yang ia lakukan. 

Memasuki paruh akhir, seiring bertambahnya intrik serta kejutan hadir, naskahnya mulai agak kerepotan mengatur porsi, sehingga filmnya bagai piring yang tak lagi cukup menampung makanan. Beruntung The Menu ditutup dengan amat kuat. Didukung kemampuan Mark Mylod, baik dalam menata intensitas maupun merangkai imageries mencekam, konklusinya menyimpan sesuatu yang makin jarang dimiliki horor modern Hollywood, yakni rasa sakit yang nyata, hasil dari penerimaan manusia terhadap akhir tragis bagi hidup mereka.  

Post a Comment for "Review Film - The Menu"