Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film Lara Ati


Don't change a winning formula. Meraup total hampir 2,8 juta penonton dalam empat judul Yowis Ben (pasti lebih andai tidak ada pandemi), bisa dipahami jika Bayu Skak mempertahankan gaya serupa di Lara Ati. Proses menggapai mimpi, percintaan berbumbu patah hati, persoalan keluarga, hingga humor receh, disatukan dalam kemasan komedi Bahasa Jawa (identitas yang sebaiknya terus dipertahankan). 

Berkaca pada capaian penonton hari pertamanya (sekitar 14 ribu), formula di atas kali ini nampaknya kurang efektif mendatangkan pundi-pundi uang. Entah diakibatkan persaingan ketat, di mana tiga judul peraih dua juta penonton masih meramaikan layar bioskop, atau publik sudah bosan dengan gaya ala Yowis Ben, atau malah sebaliknya, karena ini bukanlah Yowis Ben. Mana pun itu sangat disayangkan, sebab Lara Ati merupakan suguhan yang lebih solid dibandingkan tetralogi Yowis Ben. 

Bayu yang melakoni debut penyutradaraan solo setelah sebelumnya selalu berduet dengan Fajar Nugros, sepenuhnya menyerahkan penulisan kepada Anissa Pandan Sari dan Aisyah Ica Nurramadhani. Jadilah kisah mengenai Joko (Bayu Skak), yang mati-matian bekerja di bank, agar segera naik jabatan supaya mendapat restu menikahi Farah (Sahila Hisyam). Sialnya Farah justru tiba-tiba bertunangan dengan pria lain yang lebih mapan. 

Di tengah patah hatinya, Joko bertemu lagi dengan teman masa kecilnya, Ayu (Tatjana Saphira), yang pulang ke Surabaya pasca pindah ke Jerman tatkala keduanya masih SD. Kebetulan percintaan Ayu pun tengah didera masalah. Pacarnya, Alan (Cicio Manassero), sudah berhari-hari tidak bisa dihubungi. 

Bisa ditebak Lara Ati bakal bicara tentang upaya Joko dan Ayu move on dari pasangan masing-masing, sebelum akhirnya mencintai satu sama lain. Tapi di luar dugaan, naskahnya tak langsung bergerak ke sana, lebih dulu membangun hubungan Joko-Ayu sebagai sahabat.

Metode tersebut ternyata efektif membangun romantisme. Pasalnya dua tokoh utama jadi kerap menghabiskan waktu berkualitas bersama. Bukan bermesraan atau mengumbar rayuan, melainkan saling membantu sambil bertukar isi hati. Quality time. Joko menolong Ayu mengatasi masalah di hubungannya, sedangkan Ayu mendorong Joko untuk berani mengejar mimpi serta memahami kekurangannya. 

Seperti biasa, Tatjana bak magnet. Bukan semata karena paras ayu si Ayu, tapi Tatjana menghidupkan kepribadiannya yang menyenangkan. Layaknya sahabat yang membuat kita nyaman bertukar pikiran juga menuangkan isi perasaan. Perihal berbahasa Jawa, Tatjana cukup baik. Tentu ada kejanggalan di sana-sini, namun dapat dimaklumi karena Ayu sendiri menghabiskan lebih banyak hidupnya di Jerman. 

Penceritaannya tidak selalu mulus. Misal persoalan cita-cita Joko menjadi desainer yang baru muncul di pertengahan (selepas melewati 45 menit). Terkesan mendadak, alih-alih dibangun bertahap sedari awal. Tapi secara menyeluruh, penuturannya rapi. Tahu kapan mesti lanjut mengolah alur, kapan waktunya berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi komedi (poin yang luput diperhatikan seri Yowis Ben).

Karena kemunculannya tertata, komedinya pun lebih efektif. Terutama tiap melibatkan Cak Kartolo sebagai ayah Joko, yang jadi scene stealer lewat celotehannya. Sebagai amunisi hiburan, Lara Ati juga mempersenjatai diri dengan deretan lagu-lagu catchy (Kartonyono Medot Janji milik Denny Caknan yang telah dikenal luas tentu paling menempel di ingatan), yang tidak asal diputar, tapi dibarengi sekuen musikal. 

Kadang transisi menuju musikalnya tak berlangsung mulus, namun tujuan memperkaya variasi hiburan sukses dipenuhi. Jebule Ngapusi selaku nomor pembuka merupakan alih budaya yang apik dari sekuen Another Day of Sun milik La La Land, tanpa harus berusaha terlalu keras membuat imitasi. Sementara Iki Uripku tampil imajinatif layaknya suguhan aksi superhero movie. Lara Ati memang kisah getir yang menyenangkan. 

Post a Comment for "Review Film Lara Ati"