Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film CONFESSION


The Invisible Guest alias Contratiempo (2016) mungkin belum ada apa-apanya bila dibandingkan Perfect Strangers (2016) perihal jumlah remake, namun dengan eksistensi empat judul termasuk versi aslinya (segera jadi lima setelah versi Indonesia rilis tahun depan) film Spanyol ini jelas berada di jajaran pemilik remake internasional terbanyak. 

Alasan utamanya tentu keberadaan setumpuk twist mengejutkan yang dapat diterapkan ke segala kultur. Tapi poin tersebut bak pisau bermata dua. Sebuah remake dengan kejutan serupa takkan meninggalkan kesan seberapa kuat di mata mereka yang telah menonton versi sebelumnya. Tapi mengubahnya pun berpotensi melemahkan, bahkan merusak materi aslinya. Lalu datanglah Confession, remake asal Korea Selatan yang berusaha mengambil jalan tengah. 

Yoo Min-ho (So Ji-sub), CEO perusahaan teknologi, diterpa skandal saat dituduh sebagai pembunuh. Min-ho bersikeras bahwa ia tidak bersalah, walau semua petunjuk mengarah kepadanya. Dia pun menyewa jasa Yang Shin-ae (Kim Yunjin), pengacara dengan rekam jejak sempurna. Mereka bertemu, mendiskusikan kebenaran kasus tersebut, yang pelan-pelan merambah masalah rumit lain, termasuk keterlibatan wanita bernama Kim Se-hee (Nana). 

Secara garis besar, Confession masih melangkah di formula yang sama. Penonton The Invisible Guest bisa segera menebak kebenaran kasus, maupun rahasia-rahasia yang para tokohnya sembunyikan. Karena itulah Yoon Jong-seok, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, enggan sepenuhnya bergantung pada twist. Dipersenjatai kemampuan mengolah intensitas lewat kesabaran mengatur pacing, ditambah kejelian menaruh beberapa titik kejut, menghasilkan thriller misteri kompeten yang punya pondasi solid untuk berdiri sendiri. 

Babak keduanya mengetengahkan flashback yang disampaikan oleh Min-ho sebagai unreliable narrator, dan ketika penampilan apik dari So Ji-sub merupakan kepastian, di fase ini Nana yang mengambil posisi sentral. Modal utama si mantan idol (beside her ethereal, heavenly, out-of-this-world, unmatchable beauty) adalah tatapannya yang berkarakter. Melalui tatapan tersebut penonton diajak menyelami kemungkinan-kemungkinan. Apakah Se-hee merupakan biang keladi seluruh persoalan, atau sebatas korban rekayasa? 

Paruh akhirnya masih mempertahankan kejutan milik The Invisible Guest, tapi di sinilah Yoon Jong-seok memberi modifikasi. Modifikasi yang bersifat "win-win solution", membawa kesan berbeda tanpa harus mengubah, sehingga penonton baru bakal tetap menemukan sensasi keterkejutan yang sama, sedangkan penggemar lama takkan merasa dikhianati.

Sebuah keputusan cerdik, walau otomatis mengurangi daya kejut di penghujung durasi, mengingat The Invisible Guest (maupun Badla) menutup penceritaannya tepat setelah semua rahasia dibeberkan. Penonton pun masih berujar "what the fuck..." sewaktu kredit bergulir.  

Di sisi lain, perubahan tadi turut menambah sisi humanis bagi kisahnya. Sederhananya, "sangat Korea Selatan". Jika versi lain ditutup dengan berapi-api, maka Confession meninggalkan atmosfer yang lebih sendu, sedingin latar bersalju miliknya. Humanisme itu memberi jalan para cast mengeksplorasi akting mereka. Terutama dua penampil senior, Kim Yunjin dan Choi Kwang-il, yang membuat tiap twist-nya menyertakan dampak emosi. 

Post a Comment for "Review Film CONFESSION"